Feeds:
Posts
Comments

Taqilla for Men!

Taqilla’s classic Mens design, “Skiro” bag

Material: Leatherlike – Nylon – Suede

for Laptop up to 13,3″

490.000 IDR

“Tsavo” Bag

Material: Canvas – Leatherlike – Suede

Available Color: Grey-Black, Grey-Brown

For Laptop size 12″ and 15,4″

450.000 IDR – 475.000 IDR

“Nava” bag

Material: Leatherlike – Suede

for Laptop up to 14″

450.000 IDR

This is a story of how I got my inspiration for “Romansa”

I was reorganizing my room a few moths ago and then I found a photo album about a journey that I took way back when I was fresh out of college. The photo album brings up a lot of memories. It was a journey to Europe and I remember having a lot of memorable moment there. But one thing for sure from that journey, of all the cities I’ve been to, Rome has captured my heart the most. The city awakes a lot of my senses. I found love in Rome and it’s not just for the city.

I was just finished my last academic responsibility at college that time. All I have to do was waiting for the graduation 2 months ahead. My parents already promise to finance this trip as a graduation gift from a year ago. It became my motivation to finish my thesis early. I have a best friend called Eleni who lived in Rome. She’s an Italian and she used to live in my neighborhood when her father was assigned to work in Indonesia. We were close back then, and still keep in touch until now. Now, she’s playing the violin for Orchestra Sinfonica di Roma. Isn’t she’s great? Her violin lessons have paid her well. She was so excited when I told her about the trip and insist me to stay in her place for as long as I pleased.

Rome was the 1st city I visit on my trip. I stayed there for more than a week. Eleni was so busy preparing for the orchestra’s next performance so she can’t accompany me as much as she liked to. But that’s ok with me. It’s actually feels like an adventure when I explored the city all by myself. Rome is such an amazing city. When I got there in the afternoon, I almost cried because of the beauty of the buildings there. I can’t believe the city is right in front of my eyes. I keep shaking Eleni’s arms to show how excited I am.

I went to Colosseum, of course. The scale of that place is amazing. The thought that this civilization could build such a vast space that has now inspired our arenas. The Colosseum can hold 50,000 people. It is somewhat difficult to picture what the place once looked like with all of the marble finishes on most of it and all the seats. It must have been great. If only I could do some time traveling to see what it looks like in its golden era.

I visited the ruins of the Roman city of Foro Romano that was buried and then excavated around the 1900’s. There are housing neighborhoods, forums, temples, monuments, pillars, little pieces of marble and buildings lying everywhere and yes, I touched a piece! It is like touching a piece of the past. It has old streets and buildings, monuments then underneath the city as old as 2800 years. You can feel the history here, and yet there is a modern city next to it all.

Piazza Venezia is very beautiful. It is not a very old building in Rome standard, but I can see it was build to match the greatness of the Romans era. The pillars of stones and the statues were so grand. It was located at the centre of Rome and a lot of people meeting there. I imagine it as a romantic place to wait for a date. There’s gorgeous Italian guy stands not far from me. He keeps looking at me while I’m taking pictures, making me blush. But then a blonde girl comes up and hugs him. Ups, false alarm.

There are a lot of other amazing places I have visited in Rome but if I write it down here, it would be a 12 chapter book and it wouldn’t be about the inspiration for “Romansa”. The three places that I mention to you in this post are what inspire “Romansa” for me. I pour down the shapes, the colors, and the feelings I get from these threes places to the “Romansa” bags. The sophistication of the Roman’s past and how it influences my design. I just hope you can feel that too.

To be continued…

Ini adalah cerita tentang bagaimana aku mendapatkan inspirasi untuk tema “Romansa”

Saat aku membereskan kamar beberapa bulan lalu, aku menemukan album foto yang berisi sebuah perjalanan saat aku baru saja lulus. Album foto itu membawa banyak kenangan. Itu adalah perjalananku ke Eropa dan disana aku mengalami banyak kenangan-kenangan yang selalu kuingat. Namun satu hal yang pasti, dari semua kota yang telah aku kunjungi, Roma yang paling menarik hatiku. Kota itu membangunkan banyak rasa. Aku menemukan cinta di Roma dan itu tidak hanya pada kota tersebut.

Aku baru saja menyelesaikan tugas akhir perkuliahanku saat itu. Setelah itu aku menunggu saat-saat wisuda yang baru datang 2 bulan kemudian. Orang tuaku telah berjanji untuk membiayai perjalanan ke Eropa ini sebagai hadiah kelulusan. Itu telah menjadi motivasiku selama ini untuk cepat menyelesaikan tugas akhir. Aku mempunyai sahabat yang tinggal di Roma bernama Eleni. Dia orang Itali dan dulu pernah menjadi tetanggaku saat ayahnya bertugas di Indonesia. Kami adalah teman akrab waktu kami kecil dan masih berhubungan hingga sekarang. Sekarang ia bermain biola untuk Orchestra Sinfonica di Roma. Dia hebat, bukan? Kurasa pelajaran biolanya berhasil mewujudkan cita-citanya dulu. Eleni sangat gembira mendengar rencanaku dan ia memaksaku untuk tinggal ditempatnya selama yang aku mau.

Roma adalah kota pertama yang aku kunjungi. Aku tinggal disana selama lebih dari satu minggu. Eleni ketika itu cukup sibuk mempersiapkan pertunjukan orkestranya sehingga ia tidak bisa menemaniku sebanyak yang ia mau. Namun itu tak apa bagiku. Aku merasa seperti sedang bertualang saat aku menjelajahi kota sendiri. Roma merupakan kota yang menakjubkan. Ketika aku sampai ke kota itu di sore hari, aku hampir menangis melihat betapa indahnya gedung-gedung disana. Aku hampir tak percaya akhirnya kota ini ada di depan mataku. Aku terus menggoyangkan lengan Eleni karena aku sangat bersemangat.

Tentu saja aku pergi ke Colosseum. Besar bangunan itu sangat mengagumkan bahwa kebudayaan saat itu dapat membangun tempat megah yang menginspirasi arena jaman sekarang. Colosseum dapat menampung 50000 orang. Namun agak susah membayangkan bagaimana tempat itu waktu jaman dulu dengan finishing marmer dimana-mana. Pasti kelihatan sangat hebat. Andai aku bisa melintasi waktu untuk melihatnya di era keemasannya.

Aku mengunjungi puing-puing dari Foro Romano yang terpendam lalu digali sekitar tahun 1900an. Disana ada bekas perumahan, forum, kuil, monument, pilar, bongkahan marmer dan bangunan berserak dimana-mana, dan ya, aku menyentuhnya! Aku merasa seperti menyentuh sebuah bagian dari masa lalu. Jalan, bangunan dan monumen lama yang terdapat disana berusia hingga 2800 tahun. Sangat mengagumkan bahwa kita dapat merasakan sejarah disana, lalu ke kota Roma modern yang terletak berdekatan.

Piazza Venezia sangat indah. Bangunan itu tidak terlalu tua menurut standar di Roma, namun aku dapat melihat bahwa bangunan ini dibangun untuk meyamai kemegahan era bangsa Roma.  Pilar batu dan patung-patung disana terlihat megah. Tempat ini berlokasi ditengah kota sehingga banyak orang bertemu disana. Aku membayangkan tempat ini tempat yang romantis untuk menunggu kencan. Ada seorang lelaki italia yang ganteng berdiri tak jauh dariku. Ia terus melihatku saat aku mengambil foto sehingga aku tersipu. Namun kemudia seorang wanita berambut pirang menghampirinya dan memeluknya. Ups, false alarm.

Masih banyak tempat menarik lainnya yang aku kunjungi di Roma tapi bila aku menulisnya semua disini bisa menjadi buku 12 bab dan tidak berisi tentang bagaimana aku mendapat inspirasi untuk tema “Romansa”. Tiga tempat diataslah yang menginspiasiku untuk “Romansa”. Aku menuangkan bentuk, warna, dan perasaan yang aku dapat dari ketiga tempat itu pada tas-tas “Romansa”. Keindahan dari sejarah roma dan bagaimana itu mempengaruhiku, aku berharap kalian merasakannya juga.

-bersambung…-

The story of “Cappuccino”

Hello!

It’s me, Taqilla.

Thank you for visiting this blog. This blog is dedicated for my love and my work of bags under my own brand name, Taqilla. Taqilla’s brand has been around for 2 years now and has gained some loyal friends who made it possible for Taqilla to be around this long. As a special treat, I want to share some stories with you about “behind the scene” of how I got my design inspiration. Almost all of my designs are inspired from the events of my life. It can come from a simplest thing of every day’s life to the events that change my life. But let’s start from something simple like how I got the inspiration of the “Cappuccino” bags.

I hope you enjoy the stories as I do writing it. Come again and get the updates.

.

Halo!

Ini aku, Taqilla.

Terima kasih telah mengunjungi blog ini. Blog ini aku dedikasikan untuk rasa cinta dan kerja kerasku akan tas-tas dari merekku sendiri, Taqilla. Merek Taqilla sudah berdiri selama 2 tahun dan telah mendapatkan teman-teman setia yang telah membuat Taqilla tetap ada sampai sekarang. Sebagai persembahan spesial, aku ingin membagi cerita-cerita dengan kamu tentang ”dibelakang layar” inspirasi desain tas Taqilla. Hampir semua desainku terinpirasi dari peristiwa dalam hidupku. Inspirasi bisa datang dari hal-hal sederhana dalam kehidupan sehari-hari sampai peristiwa yang telah mengubah hidupku. Tapi aku akan memulainya dengan cerita sederhana tentang inspirasi tas ”Cappuccino”.

Aku harap kamu menikmati cerita-ceritaku seperti aku menikmati menuliskannya.

.


Behind the design of “Cappuccino”

My ideal type of day always starts with a cup of coffee.

Particularly, cappuccino.

My day would not be perfect without it. Call me addicted but a doze of that mix of coffee and milk with a little bit of foam can soothe me and makes me feel that everything is going to be alright. Well, maybe I exaggerated a little bit.  🙂

One day, I woke up in the morning and get ready for work as usual. But when I’m about to make a cup of cappuccino, it turns out my favorite instant cappuccino box is empty! I forgot to include it in my grocery shopping list yesterday. Mean while I have a morning meeting with a buyer at their office and I don’t have time to buy a cup of cappuccino. I might just have to survive the morning without it.

Fortunately, the meeting went well despite my concentration is a little bit distracted by the dancing cappuccinos in my head. I have to thanks Melissa, my officemate who came along in that meeting. She covers for me so I don’t look so clueless in front of the buyers. Yes, the buyers didn’t serve us coffee. They only serve us tea and I don’t want to look so demanding by asking coffee instead.

When the meeting is over, Melissa literally drags me to the nearest coffee shop. So there we are in a Coffee shop, Melissa cut my pleasure of ordering my cup of coffee by ordering it for me. I know she’s doing it just so she can get on my nerve. But it’s all forgotten when my cappuccino arrives. I smell the aroma and take a zip of my cappuccino. Suddenly the world is in Technicolor again. My mood is instantly better. I don’t even care if Melissa is making fun of my milk foam mustache.

As I steer my cappuccino, I suddenly have a vision of a bag. A brown leather bag with an accent of something that looks like milk foams. Maybe from something like wool fabric. I grab my pen and draw it on a piece of the coffee shop’s tissue right away so I wont forget. It becomes the 1st draft of my “cappuccino” theme.

Melissa then takes something out of her bag and said, “do you know what can make this cappuccinos tastes even better? Oreo biscuits!”

She offers me some of her Oreos and my day is getting better already.

.

Menurutku, hari yang ideal selalu dimulai dengan segelas kopi.

Terutama Cappuccino.

Hariku tidak akan sempurna tanpanya. Silakan bilang aku ”addicted” tapi memang segelas campuran kopi dan susu disertai busa susu itu akan menenangkanku dan membuatku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ok, mungkin aku sedikit berlebihan.  🙂

Suatu hari, aku bangun pagi-pagi dan bersiap untuk bekerja. Namun, saat aku akan membuat segelas cappuccino barulah aku menyadari bahwa kotak cappuccino instan favoritku kosong! Aku lupa memasukkannya kedalam daftar belanja kemarin. Sementara itu pagi ini aku harus rapat di kantor buyer dan tidak punya waktu untuk membeli segelas cappuccino. Pagi itu aku harus bertahan tanpa kopi.

Untungnya, rapat berjalan lancar walaupun konsentrasiku sedikit terganggu oleh cappuccino yang menari-nari dipikiranku. Aku harus berterimakasih pada Melissa, teman sekantorku yang turut ikut rapat. Dia membantuku agar tidak terlihat terlalu linglung di depan para buyer. Yah, ternyata dikantor mereka kami tidak diberikan kopi. Mereka memberi kami minuman teh dan aku tidak ingin terlihat terlalu ribet untuk meminta mereka mencarikanku kopi.

Ketika rapat berakhir, Melissa menyeretku ke kafe terdekat. Ketika kami sudah sampai di Coffee shop, Melissa memotong kesenanganku untuk memesan kopi dengan memesankan untukku. Aku tau dia hanya melakukannya hanya karena ingin jahil. Tapi semua terlupakan ketika cappuccino-ku datang. Aku menhirup aromanya dan menyeruputnya sedikit. Dunia pun serasa penuh warna kembali. Suasana hatiku langsung baik. Aku bahkan tidak peduli ketika Melissa tertawa melihat kumis susu akibat busa cappuccino-ku.

Saat aku mengaduk cappuccino-ku itu, tiba-tiba aku mendapatkan inspirasi tas dikepalaku. Tas kulit coklat dengan aksen yang menggambarkan busa susu bercampur dengan kopi. Mungkin sesuatu yang seperti bahan wool. Aku segera mengambil pena dan menggambarnya di sehelai tisu kafe supaya aku tidak lupa. Itulah draft pertama dari tas tema ”cappuccino” untuk Taqilla.

Melissa lalu mengambil sesuatu dari tasnya sambil berkata, “kamu tau nggak apa yang bisa bikin cappuccino ini makin enak? Biskuit Oreo!”

Dia menawariku biskuitnya dan dengan senang hati aku menerima tawaran itu. Hariku pun berubah menjadi lebih sempurna.


cappuccino sketch

1st cappuccino sketch

Cappuccino laptop bag

Cappucinno backpack sketch

another Cappucino backpack sketch

Find inspiration in everything you do

–  Taqilla –

Cappuccino and Oreo bags

LAPTOP BAG Cappuccino
Available Size : Up to 13,3″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 395.000 IDR

.

LAPTOP BAG Cappuccino
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 440.000 IDR

.

LAPTOP BAG Cappuccino Backpack
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 460.000 IDR

.

LAPTOP BAG Cappuccino Backpack
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 460.000 IDR

.


LAPTOP BAG Cappuccino
Available Size : Up to 13,3″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 395.000 IDR

.

LAPTOP BAG Cappuccino
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 440.000 IDR

.

LAPTOP BAG Oreo Backpack
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 460.000 IDR

.

LAPTOP BAG Oreo Backpack
Available Size : Up to 15,4″
Material : Wool – Leatherlike – Suede
Price : 460.000 IDR

Romansa

Romansa BAG - Creme

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 13,3″ laptop

IDR 455.000

.

Romansa LAPTOP BAG - Creme

Romansa LAPTOP BAG - Creme *back*

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 12″ laptop

IDR 400.000

.

Romansa LAPTOP SOFT CASE - Creme

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 10″ – 15,3″ laptop

IDR 345.000 – 375.000

.

Romansa HANDPHONE POUCH - creme

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for Blackberry

IDR 150.000

.

Romansa BAG - Dark Grey

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 13,3″ laptop

IDR 455.000

.

Romansa LAPTOP BAG - Dark Grey

Romansa LAPTOP BAG - Dark Grey *back*

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 12″ laptop

IDR 400.000

.

Romansa LAPTOP SOFT CASE - Dark Grey

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for 10″ – 15,3″ laptop

IDR 345.000 – 375.000

.

Romansa HANDPHONE POUCH - dark grey

Material: Leatherlike – Canvas – Suede lining

fit for Blackberry

IDR 150.000

.

Supporting the green act of “Reduce, Reuse and Recycle”, Taqilla is reducing the use of plastic or paper bag on its own store, and presents the new Taqilla Reusable Shopping bag.

IMG_0144

Every time you purchase a laptop sleeve or a laptop bag in Taqilla’s Gallery at plaza Semanggi, you will get this canvas shopping bag for FREE!

What’s even more exciting to this reusable shopping bag is you can fold it easily into its smaller pouch, carry it inside your bag neatly, and then use it whenever you need to, anytime, anywhere as your commitment to reduce the use of plastic and paper shopping bags.

green-bag

So when you shop in Taqilla’s Gallery, not only you will get your very own stylish laptop bags, you will also get this useful reusable shopping bag to start your new good habit saving the mother earth.

IMG_0146

What are you waiting for?

Get one, NOW!

Tenun adalah sebuah perjalanan.
Sungguh panjang kisah perjalanan selembar kain tenun. Bermula dari pembentukan serat benang, entah dari ulat sutera atau buah kapuk, kemudian dipilih sebagai calon benang yang masih menggumpal-gumpal, lalu dipintal menjadi gulungan yang masih harus dicelup ke dalam bahan pewarna. Dari sana, secara presisi, bertautlah ia pada lungsi. Bila telah kokoh, barulah benang dari arah lain beranyaman dengannya dengan ritme tertentu sehingga (berbulan-bulan kemudian) menjadi selembar kain yang indah.
Panjang, namun semuanya harus dilalui untuk mencapai sebuah keindahan, yang seharusnya tak sekedar dinilai dengan materi. Pada selembar kain itu ada keringat seseorang, ada kulit yang pecah terbakar pewarna, ada mata rabun yang lelah dipaksa teliti, ada otot yang kaku karena berjam-jam menunduk memangku lungsi, dan banyak tangan lainnya yang bergantung pada seutas benang yang tipis. Melelahkan, namun sering kali terlupakan.

Tenun adalah harapan.
Penenun tradisional bukanlah orang yang sehari-hari menenteng tas mahal dan hp terbaru. Bukan orang yang mondar-mandir mengendarai mobil mewah dan berpakaian indah nan wangi. Para ahli tenun itu adalah orang-orang yang berharap dari selembar kain yang dibuatnya dapat memberi harapan baru bagi anak-anak mereka. Harapan akan kepastian tersedianya makanan di atas meja, harapan akan tersedianya pakaian yang layak untuk dipakai, lalu barulah harapan akan sekolah untuk menggapai hidup (yang konon) dapat menjadi lebih cerah.

Tenun adalah identitas.
Di tengah wacana pluralisme yang sedang marak dibicarakan orang, tenun hadir dengan fungsinya sebagai salah satu simbol entitas sebuah suku bangsa di Indonesia. Tidak seperti batik yang didominasi oleh hasil karya anak Jawa, tenun tersebar di seluruh Nusantara, dari Sabang hingga Merauke. Orang dengan mudah membedakan tenun Sumbawa dengan ulos Batak, songket Padang dengan sarung Samarinda. Ragam hias yang teranyam pada setiap lembar kain menunjukkan persepsi setiap suku bangsa terhadap alam dan kehidupan. Tenun adalah bukti otentik catatan harian nenek moyang tanah air kita.

Tenun adalah peradaban.
Tenun telah hadir di kehidupan manusia barangkali sejak peradaban kita pertama kali lahir di bumi ini. Entah dari mana manusia penenun pertama mendapatkan idenya, mungkin dari laba-laba atau dari burung yang menganyam sarangnya. Namun yang pasti, sejak saat itu manusia telah berhasil menciptakan berjuta kreasi turunan dari keahlian tersebut.
Tenun telah menjadi komoditas bangsa, dan telah menjadi kekayaan peradaban Nusantara yang tak terhingga nilainya, sehingga sejatinya, para pengrajin mendapatkan gelar konservator budaya yang harus kita beri apresiasi dan penghargaan yang tulus.

Tenun adalah harmoni.
Pernahkah kita bayangkan bila benang-benang yang hendak ditenun itu bersilangan tak beraturan? Apa jadinya bila warna-warna berjajar tak bersusun? Berjalan tanpa rencana? Bahkan, akankah kita sebut ia sebuah karya tenun?
Tidak, teman, karena tenun adalah harmoni.
Seorang penenun tahu betul artinya sebuah organisasi, sebuah perencanaan, perhitungan, dan di atas segalanya ia menggunakan ‘rasa’ untuk menentukan ragam warna dan hias yang ingin ia tuangkan dalam karyanya.
Seorang seniman maestro mungkin saja memandang pengrajin tenun dengan sebelah mata, karena menurutnya mereka hanya melakukan pekerjaan berulang yang tidak orisinil. Tapi mungkinkah seseorang rela mengerjakan sesuatu begitu lama, selama berbulan-bulan, apabila tidak ada setetes pun jiwa yang ia tuangkan pada pekerjaan tersebut? Rasanya tidak. Penenun adalah seseorang yang penuh dedikasi, konsisten, sabar, dan penuh perhitungan.

Tenun adalah filosofi.
Harmoni yang tertuang dalam setiap lembar kain tenun mengandung makna yang apabila kita hayati, dapat memberikan pencerahan dalam kehidupan kita sebagai seorang anak bangsa.
Perhatikanlah, benang merah yang bertaut dengan benang kuning, yang hitam berjalin dengan yang emas. Adakah diantara mereka menimbun kawannya tanpa memberi kesempatan yang lain untuk memperlihatkan keindahannya? Dalam selembar kain tenun semua benang memiliki kesempatannya masing-masing untuk tampil, semuanya sadar akan kedudukan masing-masing, dan semuanya berjalin dengan serasi.
Semestinya selembar kain dapat mengajari kita cara menjalani hidup, baik sebagai anggota keluarga, organisasi, maupun bernegara. Darinya kita belajar untuk saling menghargai, bersabar, bekerjasama, dan berikatan. Tentram, tentram sekali rasanya.

Tenun adalah pelajaran tentang hidup.
Tenun adalah sepenggal dari perjalananku.
Aku, engkau, dan dia
akan membawa Indonesia ke tempat yang lebih baik.